Pengusaha Sepatu Mojokerto Menjerit Hadapi Perdagangan Bebas

 Entrepreneur Sepatu Mojokerto Menjerit Hadapi Perdagangan Bebas

Beberapa entrepreneur sepatu kecil menengah di Kabupaten Mojokerto mengakui kelimpungan hadapi ketentuan perdagangan bebas atau free trade agreement (FTA) ASEAN-Cina ini. Mereka mengakui tidak untung mulai sejak pertama kalinya gosip itu bergulir pada awal Januari lantas.

Para pedagang telah rasakan efek dari ketentuan itu. Pada bidang usaha kecil sepatu mitasi umpamanya, entrepreneur tidak untung sampai 50 %. Orderan menyusut 50 %, artinya produksi kami juga menyusut sebesar itu, kata Budi Utomo, anggota Paduan Pegusaha Sepatu (GPS) Kabupaten Mojokerto, Selasa (19/01).

Sepinya order berlangsung lantaran beberapa pelanggan banyak yang pilih menanti product impor masuk ke Indonesia. Argumennya, harga product impor lebih murah dari pada product lokal. Mereka hentikan sesaat keinginan.

Permintaan yang sepi bikin entrepreneur turunkan jumlah barang produksi. Ketentuan itu akan berimbas pada menurunya pendapatan entrepreneur ataupun pekerja. Bila dalam satu bulan-rata-rata entrepreneur sepatu mitasi menghasilkan sepatu sejumlah 8. 000 gunakan sepatu, sekarang ini mereka cuma menghasilkan sekitaran 4. 000 sampai 4. 500 sepatu.

Belum sebulan, fakta pahit itu menimpa hapir semua anggota GPS, yang jumlahnya meraih 112 entrepreneur. Artinya, bila semuanya entrepreneur alami penurunan order, dapat di pastikan 4. 000 ribu pekerja yang tertampung di usaha sepatu mikro itu bakal jadi korban.

Bahkan, sebagian entrepreneur anggota GPS sekarang ini telah ada yang hentikan produksi untuk sesaat saat, lantaran orderan mereka sepi. Ada pula yang dalam 1 minggu entrepreneur cuma berproduksi sepanjang empat hingga lima hari. Awalannya 1 minggu full, namun lantaran sepi, ya, empat hari kerja, bekasnya tak, jelas bekas ketua GPS ini.

Hal itu dibenarkan Pitung, entrepreneur sepatu rumahan. Walau usaha produksi sepatunya masihlah stabil dari pertama bln. lantas, yaitu dalam 1 minggu menghasilkan 25 kodi sepatu atau 400 gunakan sepatu, dia tetaplah mengakui kuatir dengan iklim perdagangan ke depan.

Kecemaasan itu nampak saat dia pasarkan sepatu bikinannya ke beberapa pasar grosir di Jawa Timur. Di pasar-pasar itu sudah berdatangan product sepatu impor dari Cina yang harga nya lebih murah. Pada akhirnya, dia harus juga turunkan harga bila menginginkan berkompetisi dengan product impor itu. Walau sebenarnya biaya produksinya untuk berbelanja bahan baku mahal, kata dia.

Dampak perdagangan bebas itu juga dirasa beberapa perajin alas kaki berbentuk sandal sepatu. Ketua Komite Entrepreneur Alas Kaki Kota Mojokerto, Emru Suhadak, menyampaikan satu diantara efek ketentuan pasar bebas itu yang paling mencolok yaitu dibatasinya jumlah order (pesanan) oleh grosir serta pelanggan di banyak daerah, seperti Surabaya, Malang, Bali, Kalimantan, Jawa Tengah serta Jakarta.

Pembatasan order itu saat ini meraih 50 %. Mereka (pelanggan serta grosir) menyebutkan tidak harga sepatu safety krisbow menginginkan gegabah pesan barang dengan jumlah yang semakin besar dahulu, ungkap Emru yang juga perajin sepatu type fashion serta mayoret.

Dia menyampaikan pembatasan jumlah order itu terlebih dulu memanglah tak di ketahui kepastian argumennya. Sebab, beberapa perajin banyak yang belum tahu ada perdagangan bebas itu. Bila bln. terlebih dulu kami dapat penuhi pesanan meraih 50 kodi saat ini cuma 25 kodi, keluhnya.

MUHAMMAD TAUFIK

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s